BERSUCI ADALAH SEPARUH IMAN

Bersuci adalah separuh dari iman dan Allah ﷻ tidak menerima shalat tanpa bersuci. Bersuci dari hadats kecil dengan cara berwudhu sedangkan bersuci dari hadats besar dengan mandi. Adapun ketika dalam kondisi benar-benar tidak ada air atau ada air namun tidak bisa menggunakannya, maka boleh bertayamum.

Allah ﷻ telah berfirman kepada Nabi  ﷺ;

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS. Al-Muddatsir [74]: 4).

 Kaum musyrikin adalah orang-orang yang tidak suci, maka Allah ﷻ memerintahkannya untuk bersuci dan mensucikan pakaiannya. Ada pula yang mengatakan maksud ayat di atas adalah bersuci dari dosa. Namun nampaknya ayat ini mencakup keduanya.

Nabi  ﷺ bersabda;

الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ. (رواه مسلم).

Bersuci adalah separuh iman.” (HR. Muslim).

 Maksudnya, pahala bersuci mencapai separuh pahala beriman. Ada juga yang mengatakan bahwa keimanan itu menghapus kesalahan-kesalahan yang telah lalu. Demikian juga wudhu, karena wudhu tidak sah tanpa disertai keimanan, sehingga keberadaannya yang dilandasi keimanan itu merupakan makna separuh itu. Dan masih ada penjelasan lain terkait maksud hadits ini.

Allah ﷻ telah memberikan pujian kepada jamaah masjid Quba’ karena mereka mencintai kesucian, yaitu sebagaimana firman-Nya;

فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

Di dalamnya ada orang-orang yang ingin mensucikan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS. At- Taubah [9]: 108).

 Kesucian yang Allah ﷻ puji ini adalah istinja’ (bersuci dengan air setelah buang hajat) sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits.

Dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anh, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ الْخَلاَءَ، فَأَحْمِلُ أَنَا وَغُلاَمٌ إِدَاوَةً مِنْ مَاءٍ وَعَنَزَةً، يَسْتَنْجِي بِالْمَاءِ.

“Ketika Rasulullah   masuk kakus, aku dan seorang budak membawakan segayung air dan sebuah tombak kecil, maka beliau beristinja’ dengan air. Dalam riwayat lain disebutkan,

إِذَا تَبَرَّزَ لِحَاجَتِهِ أَتَيْتُهُ بِمَاءٍ فَيَغْسِلُ بِهِ.

“Apabila Nabi   buang hajat besar, maka aku membawakan air untuknya, lalu beliau bisa bersuci dengannya.”

Tentang syariat istijmar (bersuci dengan batu  dan semacamnya setelah buang hajat), dijelaskan oleh hadits ‘Aisyah ل bahwa Nabi  ﷺ bersabda,

إِذَا ذَهَبَ أَحَدُكُمْ لِحَاجَتِهِ فَلْيَسْتَطِبْ بِثَلاثَةِ أَحْجَارٍ فَإِنَّهَا تُجْزِئُهُ. (رواه أحمد وأبو داود والنسائي).

Jika salah seorang dari kalian buang hajat besar, maka hendaklah ia cebok dengan tiga buah batu, karena itu mencukupinya (untuk bersuci).  (HR. Ahmad, Abu Dawud dan An- Nasa’i)

Mengenai tata caranya, Salman radliyallahu ‘anh berkata,

نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ. (رواه مسلم).

Beliau (Nabi  ) melarang kami beristinja’ dengan tangan kanan, beristinja’ dengan batu yang kurang dari tiga, dan beristinja’ dengan kotoran ternak dan tulang.” (HR. Muslim).

Islam telah menjadikan bersuci sebagai syarat sahnya shalat, sehingga shalat tidak diterima tanpa bersuci, Nabi  ﷺ bersabda;

مِفْتَاحُ الصَّلاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ. (رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه).

Kunci shalat adalah bersuci, pengharamannya adalah takbir (takbiratul ihram) dan penghalalannya adalah salam.” (HR. Abu Dawud, At- At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

            Nabi  ﷺ bersabda;

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةً بِغَيْرِ طُهُورُ. (متفق عليه).

Allah tidak menerima satu shalat tanpa bersuci.” (Muttafaq ‘Alaih)

            Beliau juga bersabda;

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَن أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ. (متفق عليه).

Tidak akan diterima shalatnya orang yang berhadats sampai ia berwudhu.” (Muttafaq ‘Alaih)

            Allah ﷻ berfirman menjelaskan dua jenis bersuci dari hadats besar dan hadats kecil, serta menyinggung pengganti keduanya ketika tidak bisa menggunakan air;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, maka jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih). Sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu, Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Maidah [5]: 6)

            Tata cara wudhu telah diterangkan dalam hadits Ibnu Abbas radliyallahu ‘anh berikut;

أَنَّهُ تَوَضَّأَ فَغَسَلَ وَجْهَهُ، أَخَذَ غَرْفَةً مِنْ مَاءٍ فَمَضْمَضَ بِهَا وَاسْتَنْشَقَ، ثُمَّ أَخَذَ غَرْفَةً مِنْ مَاءٍ فَجَعَلَ بِهَا هَكَذَا أَضَافَهَا إِلَى يَدِهِ الأُخْرَى فَغَسَلَ بِهِمَا وَجْهَهُ، ثُمَّ أَخَذَ غَرْفَةً مِنْ مَاءٍ فَغَسَلَ بِهَا يَدَهُ الْيُمْنَى، ثُمَّ أَخَذَ غَرْفَةً مِنْ مَاءٍ فَغَسَلَ بِهَا يَدَهُ الْيُسْرَى، ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ، ثُمَّ أَخَذَ غَرْفَةً مِنْ مَاءٍ فَرَشَّ عَلَى رِجْلِهِ الْيُمْنَى حَتَّى غَسَلَهَا، ثُمَّ أَخَذَ غَرْفَةً أُخْرَى فَغَسَلَ بِهَا رِجْلَهُ يَعْنِي الْيُسْرَى، ثُمَّ قَالَ: هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأ. (رواه البخاري).

bahwasannya ia berwudhu dengan cara membasuh wajahnya, lalu mengambil seciduk air kemudian berkumur dan beristinsyaq (membersihkan lubang hidung dengan cara menghirup air dengan hidung lalu mengeluarkannya lagi), lalu mengambil seciduk air lagi lalu menuangkannya ke tangannya yang lain kemudian membasuh wajahnya dengan kedua tangannya, lalu mengambil seciduk air lagi kemudian membasuh tangan kanannya, lalu mengambil seciduk air lagi kemudian membasuk tangan kirinya, lalu mengusap kepalanya, lalu mengambil seciduk air lagi lalu menyiramkannya pada kaki kanannya dan membasuhnya, lalu mengambil seciduk air lagi kemudian membasuh kirinya, lalu ia mengatakan, “Begitulah aku melihat Rasulullah   berwudhu.” (HR. Al-Bukhari).

Hadits Utsman bin Affan radliyallahu ‘anh, menerangkan bahwa ia minta air untuk berwudhu, kemudian ia pun berwudhu, yaitu membasuh kedua telapak tangannya tiga kali, berkumur dan beristinsyaq, membasuh wajahnya tiga kali, membasuh tangan kanannya hingga siku tiga kali, membasuh tangan kirinya juga seperti itu, lalu mengusap kepalanya, membasuh kaki kanannya hingga mata kaki tiga kali, lalu membasuh kaki kirinya juga seperti itu, kemudian mengatakan, “Aku melihat Rasulullah  ﷺ berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian Rasululllah  ﷺ berkata;

مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا، ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. (رواه مسلم).

Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, lalu ia mengerjakan shalat dua rakaat dengan khusyu’, maka diampuni dosanya yang telah lalu.”  (HR. Muslim).

Adapun tata cara mandi telah diterangkan oleh hadits ‘Aisyah radliyallahu ‘anha;

كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنْ الْجَنَابَةِ بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَة،ِ ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي الْمَاءِ فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ، ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ. (رواه البخاري).

Bahwa apabila Nabi   mandi junub, beliau memulai dengan mencuci kedua tangannya, lalu berwudhu seperti wudhu hendak shalat, lalu memasukkan jari-jarinya ke dalam air, lalu menyela-nyela rambutnya dengan jari-jari tangannya, kemudian menuangkan tiga ciduk air ke kepalanya dengan kedua tangannya, kemudian menyiramkan air ke seluruh tubuhnya.” (HR. Al-Bukhari).

Mandi yang seperti ini adalah mandi yang sempurna. Walaupun sebenarnya meratakan air ke seluruh tubuh dengan cara bagaimanapun dianggap sah, imam  Asy-Syafi’i mengatakan, “Allah ﷻ mewajibkan mandi secara mutlak, tidak disebutkan harus mulai dengan apa, jadi bagaimana pun cara mandinya sudah mencukupi, asalkan ia membasuh seluruh tubuhnya, adapun cara yang terbaik ialah yang disebutkan dalam hadits ‘Aisyah di atas.”

Disebutkan dalam hadits Maimunah, istri Nabi  ﷺ, ia mengatakan;

تَوَضَّأَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ غَيْرَ رِجْلَيْهِ، وَغَسَلَ فَرْجَهُ وَمَا أَصَابَهُ مِنْ الأَذَى، ثُمَّ أَفَاضَ عَلَيْهِ الْمَاءَ، ثُمَّ نَحَّى رِجْلَيْهِ فَغَسَلَهُمَا، هَذِهِ غُسْلُهُ مِنْ الْجَنَابَةِ. (رواه البخاري).

 “Rasulullah   berwudhu seperti wudhu untuk shalat, hanya saja tidak membasuh kedua kakinya. Beliau juga mencuci kemaluannya serta bagian yang terkena kotoran, kemudian menyiramkan air pada bagian tersebut, lalu beliau menggeser kedua kakinya kemudian mencucinya? Ini adalah cara mandi junub”.  (HR. Al-Bukhari).

 Dan yang pasti bahwa mencuci kemaluan dilakukan sebelum wudhu karena kata “dan” di dalam hadits tersebut tidak menunjukkan urutan.

Adapun masalah apakah mengakhirkan cuci kaki ketika mandi hukumnya mustahab. Ini adalah masalah khilafiyah yang cukup terkenal.

Selanjutnya tata cara tayamum dijelaskan oleh Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari.  Ada seorang laki-laki datang kepada Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anh lalu berkata, “Sesungguhnya aku sedang junub, tapi aku tidak mendapatkan air.” Maka Ammar bin Yasir radliyallahu ‘anh berkata kepada Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anh, “Mungkin engkau masih ingat ketika kita mengalami hal itu dalam suatu perjalanan, aku dan engkau? Saat itu engkau belum shalat dan sementara aku berguling-guling di tanah, lalu shalat. Kemudian aku ceritakan kepada Nabi  ﷺ, lalu beliau bersabda;

إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ هَكَذَا فَضَرَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَفَّيْهِ الأَرْضَ وَنَفَخَ فِيهِمَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ.

Sebenarnya, cukuplah engkau begini.”, beliau menepukkan kedua telapak tangannya di atas tanah, lalu meniup keduanya, kemudian mengusap wajahnya dan kedua telapak tangannya.

Tentang Penulis

client-photo-1
Golden Firdaus

Komentar

Tinggalkan Balasan