Hakikat Puasa dan Hukum-Hukumnya

Hakikat puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang mem­batalkan, baik yang lahir maupun yang batin, sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan pelaksanaannya, maka Allah ﷻ tidak membutuhkan usahanya dalam meninggalkan makan dan minum. Disunnahkan untuk menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.

Barangsiapa yang secara sengaja berbuka (batal puasa) karena bersetubuh maka wajib atasnya qadha’ dan kaffarah. Adapun yang tidak sengaja maka hukumnya didiskusikan oleh para ulama dalam perbedaan pendapat. Barangsiapa yang berbuka bukan karena bersetubuh maka wajib atasnya qadha’, adapun tentang kewajiban kaffarah ada perbe­daan pendapat. Barangsiapa yang lupa lalu makan atau minum di siang bulan Ramadhan, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya saat itu Allah ﷻ memberinya makan dan minum.

Firman Allah ﷻ yang mengisyaratkan tentang hakikat puasa dan waktunya;

حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah [2]: 187).

Diriwayatkan dari ‘Adiy bin Hatim radliyallahu ‘anh: “Ketika turun firman Allah ﷻ (hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar), aku berpatokan dengan membandingkan benang hitam dengan benang putih yang aku simpan di bawah bantalku. Ketika aku melihat malam, perbedaan itu belum tampak bagiku, lalu aku datang kepada Rasulullah dan aku ceritakan itu pada beliau, Beliau pun bersabda;

ذَلِكَ سَوَادُ اللَّيْلِ وَبَيَاضُ النَّهَارِ. ( رواه البخاري).

“Itu maksudnya adalah hitamnya malam dan putihnya siang.” (HR. Al-Bukhari).

Dari Abdullah bin Abi Auf t, ia berkata, “Suatu ketika kami bersama Rasulullah  ﷺ dalam suatu perjalanan, saat itu beliau sedang berpuasa. Saat matahari terbenam, beliau berkata kepada seseorang, “Hai Fulan, berdirilah, dan buatkan untuk kami minuman.” Orang itu berkata, “Wahai Rasulullah, nanti sore saja.” Beliau berkata lagi. “Turunlah lalu buatkan untuk kami minuman. “Orang itu berkata lagi, “Wahai Rasulullah, nanti kalau sudah sore.” Beliau berkata lagi, “Turunlah lalu buatkan untuk kami minuman.” Orang itu berkata lagi, “Ini masih siang.” Beliau pun berkata lagi, “Turunlah lalu buatkan untuk kami minuman. “Maka orang itu pun turun lalu membuatkan minuman, kemudian beliau pun minum, lalu bersabda;

إِذَا رَأَيْتُمُ اللَّيْلَ أَقْبَلَ مِنْ هَا هُنَا فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ. (متفق عليه).

Jika kalian telah melihat malam datang dari sini, berarti orang berpuasa sudah boleh berbuka.” (Muttafaq `Alaih). Dalam suatu riwayat disebutkan,

إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ مِنْ هَا هُنَا وَجَاءَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ.

“Jika matahari telah terbenam dari sini dan malam telah datang dari sini maka orang yang berpuasa sudah boleh berbuka.” Yang dimaksud dengan membuat minuman dalam hadits tersebut adalah mencampurkan tepung dan air lalu mengaduknya hingga rata.

Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anh, ia berkata, “Rasulullah  ﷺ bersabda;

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا وَغَرَبَتْ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ. (متفق عليه).

“Jika malam telah datang dari sini dan siang telah pergi dari sini, sementara matahari telah terbenam, maka orang yang berpuasa boleh berbuka.” (Muttafaq `Alaih).

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anh ia berkata, “Rasulullah  ﷺ bersabda;

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ. (رواه البخاري).

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan tindakan dusta, maka Allah tidak membutuhkan (usahanya untuk) meninggalkan makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari).

Dalil yang menganjurkan sahur adalah hadits Amr bin Al-­Ash radliyallahu ‘anh, bahwa Rasulullah  ﷺ bersabda;

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ. (متفق عليه).

Perbedaan antara puasa kita dengan puasanya ahli kitab adalah makan sahur.” (Muttafaq `Alaih).

Hadits Anas radliyallahu ‘anh, ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda;

تَسَحَّرُوا؛ فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً. (متفق عليه).

 “Sahurlah kalian karena di dalam sahur itu terkandung berkah. “(Muttafaq `Alaih).

Dalil yang menganjurkan mengakhirkan sahur adalah hadits Sahl bin Sa’d radliyallahu ‘anh, ia berkata,

كُنْتُ أَتَسَحَّرُ فِي أَهْلِي ثُمَّ تَكُونُ سُرْعَتِي أَنْ أُدْرِكَ السُّجُودَ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه البخاري).

 “Aku sahur bersama keluargaku, lalu aku bersegera dan aku masih bisa mendapatkan sujud (shalat Shubuh) bersama Rasulullah  ﷺ.” (HR. Al-Bukhari).

Dari Aisyah radliyallahu ‘anha bahwa Bilal radliyallahu ‘anh adzan pada malam hari, maka Rasulullah ﷺ bersabda;

كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ؛ فَإِنَّهُ لاَ يُؤَذِّنُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ. (متفق عليه).

 “Makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum adzan, karena ia tidak akan adzan hingga terbitnya fajar.” (Muttafaq `Alaih).

Dalil yang menganjurkan bersegera berbuka adalah hadits Sahl bin Sa’d radliyallahu ‘anh, bahwa Rasulullah  ﷺ bersabda;

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ.  (متفق عليه).

“Manusia itu masih tetap dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (Muttafaq `Alaih).

Tentang wajibnya kafarah bagi yang bersetubuh (di siang hari Ramadhan) dengan sengaja, dalilnya adalah hadits Abu Hurairah radliyallahu ‘anha, ia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Nabi  ﷺ dan berkata, “Binasa aku wahai Rasulullah.” Beliau bertanya, “Apa yang membinasakanmu?” Ia menjawab, “Aku menggauli isteriku pada (siang) bulan Ramadhan.” Beliau bertanya lagi, “Apa kau punya budak yang bisa engkau merdekakan?” Ia menjawab, “Tidak” Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau bisa berpuasa dua bulan berturut-turut?” ia menjawab, “Tidak” beliau bertanya lagi, “Apa engkau bisa memberi makan enam puluh orang miskin?”ia menjawab, “Tidak” Kemudian orang itu duduk, lalu ada orang yang membawakan sekantung korma untuk Rasulullah  ﷺ, kemudian beliau bersabda, “Bersedekahlah dengan ini.” Orang itu berkata, “(Kepada) yang lebih miskin dari kami?” Dalam riwayat lain disebutkan, “(Kepada) yang lebih miskin dari aku wahai Rasulullah? “Tidak ada satu rumah pun di antara dua gunung ini yang lebih membutuhkan korma ini dari pada kami” Maka Nabi  ﷺ tertawa hingga tampak gigi taringnya, kemudian beliau bersabda, “Pergilah dan berikan makan untuk keluargamu.” Dalam riwayat lain disebutkan, bahwa laki-laki itu mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah kepada yang selain kami? Demi Allah, sesungguhnya kami adalah orang-­orang yang lapar, kami tidak memiliki apa-apa” Beliau bersabda, “Makanlah oleh kalian.” (Muttafaq `Alaih).

Tentang tidak wajibnya qadha bagi yang makan atau minum karena lupa, ditunjukkan oleh hadits Abu Hurairah radliyallahu ‘anh, ia berkata, “Rasulullah  ﷺ bersabda;

مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ؛ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ. (متفق عليه).

“Barangsiapa yang lupa bahwa ia sedang berpuasa lalu makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum.” (Muttafaq `Alaih).

Tentang Penulis

client-photo-1
Golden Firdaus

Komentar

Tinggalkan Balasan