Wajibnya Bersuci Setelah Haid
Wajibnya Bersuci Setelah Haid

Haid adalah darah alami yang keluar dari rahim pada waktu-waktu tertentu yang tidak disebabkan oleh penyakit atau lainnya. Adapun pendapat-pendapat mengenai batasan waktunya minimal dan maksimal merupakan perkara ijtihad, termasuk  kapan waktu mulainya seorang wanita mendapat haid dan kapan masa menopausenya. Sedangkan cairan keruh dan kekuning-kuningan, jika terjadi pada saat yang biasanya haid maka dianggap haid. Adapun jika terjadi di luar masa yang biasanya mengalami haid maka tidak dianggap haid.

            Wanita mustahadhah adalah wanita yang mengeluarkan darah di luar masa haidnya. Dalam kasus ini terdapat tiga golongan wanita; wanita yang telah memiliki kebiasaan waktu haid secara rutin, wanita yang bisa membedakan antara darah haid atau bukan, dan wanita yang tidak tahu. Untuk wanita yang telah memiliki kebiasaan waktu haid yang baku, ia merujuk kepada kebiasaan waktu haidnya. Wanita yang bisa membedakan antara darah haid atau bukan, ia merujuk kepada pengetahuannya. Sedangkan wanita yang tidak tahu, maka merujuk kepada kebiasaan mayoritas wanita dalam urusan haid, yaitu enam atau tujuh hari dalam setiap bulannya. Selebihnya ia bersuci dan wudhu untuk setiap waktu shalat.

            Wanita haid haram mengerjakan shalat, puasa, thawaf di Baitullah, menyentuh mushaf tanpa alas, berdiam di masjid dan berhubungan suami-istri. Berbeda dengan wanita mustahadhah yang boleh melakukan semua itu.

Allah ﷻ berfirman;

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. “(QS. Al-Baqarah [2]: 222)

            Nabi ﷺ bersabda kepada Fathimah binti Hubaisy radliyallahu ‘anha;

إِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلاَةَ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي. (رواه البخاري).

“…Jika tiba masa haidmu maka tinggalkanlah shalat, dan jika telah berlalu maka mandilah dan shalatlah.” (HR. Al-Bukhari).

            Dalil yang menunjukkan bahwa wanita yang istihadhah harus merujuk kepada waktu haidnya yang baku adalah hadits Fathimah binti Hubaisy, bahwa ia bertanya kepada Nabi ﷺ, “Sesungguhnya aku istihadhah dan tidak suci, apakah aku harus terus meninggalkan shalat?” Beliau menjawab;

لاَ، إِنَّ ذَلِكِ عِرْقٌ، وَلَكِنْ دَعِي الصَّلاَةَ قَدْرَ الأَيَّامِ الَّتِي كُنْتِ تَحِيضِينَ فِيهَا، ثُمَّ اغْتَسِلِي وَصَلِّي. (رواه البخاري).

 “Tidak, sesungguhnya itu adalah pendarahan biasa, akan tetapi tinggalkanlah shalat sebanyak hari-hari yang biasanya engkau haid, kemudian (selebihnya) mandilah dan shalatlah.” (HR. Al-Bukhari).

            Hadits Ummu Habibah binti Jahsy radliyallahu ‘anha, bahwa ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang darah wanita, maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya;

امْكُثِي قَدْرَ مَا كَانَتْ تَحْبِسُكِ حَيْضَتُكِ ثُمَّ اغْتَسِلِي وَصَلِّي. (رواه البخاري).

Tinggallah engkau selama hari-hari yang biasanya engkau tertahan oleh haidmu kemudian(setelah itu) mandi dan shalatlah.” (HR. Al-Bukhari).

Dalil yang menunjukkan bahwa wanita yang bisa membedakan antara darah haid atau bukan merujuk kepada pengetahuannya ialah hadits Fathimah binti Hubaisy dalam riwayat Abu Dawud dan An-Nasa’i, bahwa Nabi  ﷺ bersabda;

إِذَا كَانَ دَمُ الْحَيْضِ فَإِنَّهُ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ، فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِي عَنِ الصَّلاَةِ، فَإِذَا كَانَ الْآخَرُ، فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي.

 “Jika darah haid, maka warnanya hitam yang biasa dikenali, jika demikian, maka tinggalkanlah shalat. Tetapi jika tidak, maka wudhulah dan shalatlah.”

            Dalil yang menerangkan tentang wanita yang tidak tahu atau bimbang berkaitan dengan haidnya,  maka hendaknya ia merujuk kepada kebiasaan mayoritas wanita ialah hadits Hamnah binti Jahsy ل, Nabi  ﷺ bersabda, “Itu adalah hentakan dari setan, maka anggaplah haid selama enam atau tujuh hari, kemudian mandilah. Jika engkau telah menganggap suci, maka shalatlah dua puluh empat atau dua puluh tiga (hari), puasalah dan shalatlah karena itu cukup bagimu. Begitulah, hendaknya kamu lakukan sebagaimana yang dilakukan oleh wanita-wanita yang haid.

            Dalil yang menunjukkan bahwa cairan keruh dan kekuning-kuningan yang keluar, bukan pada masa haid, maka itu  tidak dianggap haid berdasarkan hadits Ummu Athiyah radliyallahu ‘anha:

كُنَّا لاَ نَعُدُّ الْكُدْرَةَ وَالصُّفْرَةَ شَيْئًا. (رواه البخاري).

 “Kami dahulu tidak menganggap cairan keruh dan kekuning-kuningan (sebagai darah haid)”. (HR. Al-Bukhari).

Berkenaan dengan ini, Al-Bukhari dalam kitabnya membuat bab “Cairan keruh dan kekuning-kuningan di luar masa haid.” Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan,

كُنَّا لاَ نَعُدُّ الْكُدْرَةَ وَالصُّفْرَةَ بَعْدَ الطُّهْرِ شَيْئًا. (رواه أبو داود).

Kami dahulu tidak menganggap cairan keruh dan kekuning-kuningan setelah masa suci (sebagai haid).” Maksud ungkapan “kami dahulu” adalah pada masa Nabi ﷺ yang berarti hal itu diketahui oleh beliau. Hadits ini memberikan kesimpulan bahwa cairan keruh dan kekuning-kuningan sebelum masa suci dianggap sebagai haid.

            Dalil tentang wanita haid harus meninggalkan shalat dan puasa diterangkan oleh hadits Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda ,

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ قُلْنَ: بَلَى. قَالَ: فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا. (متفق عليه).

 “Bukankah wanita itu jika sedang haid tidak shalat dan tidak puasa?” Para wanita menjawab, “Tentu.” Beliau berkata lagi, “Maka itulah kekurangan agamamu.” (Muttafaq ‘Alaih).

            Sabda Nabi ﷺ kepada Fathimah binti Hubaisy;

إِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلاَةَ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّي. (رواه البخاري).

 “…Jika tiba masa haidmu maka tinggalkanlah shalat, dan jika telah berlalu maka mandilah dan shalatlah.” (HR. Al-Bukhari).

            Dalil yang menerangkan haramnya wanita haid melakukan thawaf di Baitullah adalah sabda Nabi  ﷺ kepada ‘Aisyah radliyallahu ‘anha yang pada saat ia sedang haid;

فَافْعَلِي مَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِي. (متفق عليه).

 “Lakukanlah apa yang dilakukan oleh para haji hanya saja engkau jangan thawaf di Baitullah sampai engkau suci.” (Muttafaq ‘Alaih).

            Dalil yang menerangkan haramnya wanita haid menyentuh mushaf adalah firman Allah ﷻ;

لا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ

Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (QS. Al-Waqi’ah [56]: 79).

            Dalil yang menerangkan tentang haramnya wanita haid berdiam di masjid adalah Allah ﷻ berfirman;

وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

“(jangan pula menghampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar lewat saja, hingga kamu mandi.” (QS. An-Nisa’ [4]: 43). Wanita haid dan wanita nifas sama hukumnya dengan orang yang junub, tidak ada perbedaan pendapat tentang hal ini.

            Dalil yang menerangkan tentang haramnya bersetubuh dengan wanita haid adalah Allah ﷻ berfirman;

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, “Haid itu adalah suatu kotoran.” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan jangan kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah [2]: 222)

            Dalam hadits ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu jika seseorang dari kami (para istri nabi) sedang haid, dan Rasulullah ﷺ hendak mencumbuinya, maka beliau memerintahkannya mengenakan kain pada bagian haidnya, lalu beliau mencumbuinya.” Aisyah radliyallahu ‘anha mengatakan, “Siapa di antara kalian yang dapat menahan gejolaknya seperti Nabi  ﷺ? (tentu tidak ada).” (Fathul Bari, 1/403).

            Dalam hadits Anas t yang diriwayatkan Muslim, Nabi  ﷺ bersabda;

اصْنَعُوا كُلَّ شَىْءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ.

Lakukanlah segala sesuatu selain nikah (bersetubuh).”

Tentang Penulis

client-photo-1
Golden Firdaus

Komentar

Tinggalkan Balasan